Langsung ke isi
TuristahRuang belajar, bertumbuh, dan berkreasi bersama

Jendela Pustaka · Seri 6 · Alam dan Iklim

Kenapa Kota Lebih Gerah dari Desa?

Mengenal pulau panas perkotaan


Disarikan dari Ali dkk. (2023), Frontiers in Built Environment, dan Alonzo dkk. (2025), Arboriculture & Urban Forestry

Siang hari di tengah kota, udara terasa berat dan jalan seperti memantulkan panas ke wajah. Begitu kita pulang ke desa, sore terasa lebih ringan. Perasaan itu ada penjelasannya. Dua tinjauan pustaka yang terbit dalam lima tahun terakhir membantu kita melihat dari mana panas kota datang, dan apa yang bisa meredakannya.

Baca artikel aslinya di Frontiers in Built Environment ↗

Sampul unggahan Instagram Jendela Pustaka Seri 6: ilustrasi gedung-gedung kota di bawah matahari jingga dengan garis-garis panas, dan judul Kenapa kota lebih gerah dari desa?
Sampul unggahan Seri 6 di Instagram @turistah.online. Desain: Turistah.

Pulau hangat di tengah daratan

Para ilmuwan menyebutnya pulau panas perkotaan (urban heat island), yaitu keadaan ketika wilayah kota bersuhu lebih tinggi daripada wilayah perdesaan di sekitarnya. Penyebab utamanya, menurut Ali dkk. (2023), adalah bahan bangunan kota seperti beton dan aspal yang menyerap panas lalu menahannya.

Kalau suhu sebuah wilayah digambar di peta, kota tampak seperti pulau hangat yang dikelilingi daerah yang lebih sejuk. Dari gambaran itulah namanya berasal. Suhu yang lebih tinggi ini tidak hanya soal rasa gerah. Ali dkk. menyebut dampaknya pada pemakaian energi, mutu udara, dan kesehatan warga kota.

Kisah pertama: jalan yang menyimpan matahari

Di kota, jalan raya menutupi sebagian besar permukaan tanah. Jalan menyerap banyak sekali sinar matahari, sehingga permukaannya bisa menjadi sangat panas (Ali dkk., 2023). Panas itu tidak langsung hilang ketika matahari condong. Beton dan aspal menyimpannya, lalu melepaskannya pelan-pelan ke udara di sekitarnya.

Desa punya lebih banyak tanah terbuka, sawah, dan pepohonan. Permukaan seperti ini tidak menahan panas sekuat beton dan aspal. Itu sebabnya, dengan matahari yang sama, kota bisa terasa lebih gerah daripada desa di dekatnya.

Kisah kedua: memanen panas dari jalan

Tinjauan Ali dkk. (2023) menyaring 1.892 artikel dan akhirnya membahas 90 di antaranya. Mereka mencatat beberapa cara yang sudah dicoba untuk mendinginkan kota, antara lain bahan bangunan berwarna terang yang memantulkan sinar, tanaman hijau dan atap hijau, penataan kota, perkerasan berpori yang meloloskan air, pohon peneduh, dan kolam atau badan air. Dari semua itu, tanaman hijau tampaknya paling ampuh.

Fokus utama tinjauan mereka sebenarnya ide yang lebih unik, yaitu mengambil panas dari jalan. Pipa berisi cairan ditanam di bawah aspal untuk membawa panas pergi. Ada juga bahan yang menyimpan panas di siang hari lalu melepaskannya di malam hari untuk menghangatkan bangunan. Panas yang terkumpul bisa dipakai, misalnya, untuk mencairkan es di jalan pada negara bermusim dingin atau untuk memanaskan air.

Ali dkk. juga jujur tentang batasnya. Sebagian besar penelitian yang mereka tinjau masih berupa uji laboratorium atau simulasi komputer, dan uji lapangan di kota sungguhan masih sedikit.

Beton dan aspal menyimpan matahari siang hari. Pohon membantu mengembalikan kesejukannya.

Kisah ketiga: pohon yang paling setia mendinginkan

Alonzo dkk. (2025) membaca 115 penelitian tentang pohon kota dan suhu yang terbit antara 2018 dan 2024. Hasil pemetaan mereka menunjukkan bahwa pohon kota secara konsisten lebih baik mendinginkan dibandingkan jenis tanaman lain, terutama di daerah yang panas dan kering asalkan airnya cukup. Tajuk pohon yang rapat dan tinggi memberi kesejukan yang lebih luas.

Ada satu hal penting yang mereka temukan. Kesimpulan penelitian bisa berbeda tergantung suhu apa yang diukur. Sebagian peneliti mengukur suhu permukaan, yaitu panasnya tanah, jalan, atau atap yang biasanya dipotret dari satelit. Sebagian lagi mengukur suhu udara yang kita rasakan di kulit. Keduanya tidak selalu bergerak bersama, jadi angka dari satu penelitian tidak bisa langsung dibandingkan dengan penelitian lain.

Lalu, apa artinya bagi kita?

Kota yang gerah bukan semata karena cuaca. Sebagian besar panasnya datang dari bahan yang kita pakai untuk membangun jalan, halaman, dan atap. Artinya, pilihan kecil ikut berpengaruh. Halaman yang tidak seluruhnya disemen, pohon peneduh di depan rumah, dan tanaman yang cukup disiram adalah bagian dari jawabannya.

Lain kali berjalan di trotoar pada siang hari, coba rasakan bedanya saat melewati bayangan pohon dan saat berdiri di atas aspal yang terbuka.

Sumber

Ali, M., Bicer, Y., Al-Ansari, T., & Amhamed, A. I. (2023). A systematic review of heat recovery from roads for mitigating urban heat island effects: Current state and future directions. Frontiers in Built Environment, 9, 1292913. https://doi.org/10.3389/fbuil.2023.1292913 (akses terbuka, CC BY 4.0)

Alonzo, M., Ibsen, P. C., & Locke, D. H. (2025). Urban trees and cooling: A review of the recent literature (2018 to 2024). Arboriculture & Urban Forestry, 51(5), 420–444. https://doi.org/10.48044/jauf.2025.023 (© 2025 International Society of Arboriculture)

Cerita ini ditulis ulang dengan kata-kata Turistah dari dua artikel tinjauan. Artikel Ali dkk. berlisensi CC BY 4.0, sedangkan artikel Alonzo dkk. dilindungi hak cipta International Society of Arboriculture dan hanya kami ringkas. Tidak ada gambar, tabel, atau kutipan panjang dari artikel yang disalin; angka-angka dikutip dengan menyebut sumbernya. Sampul dan ilustrasi © 2026 Turistah.

Buka artikel lengkapnya ↗

Lihat versi slide-nya di Instagram @turistah.online

Jendela Pustaka